Minggu, 18 Maret 2012

Pembelajaran Tematik


Pembelajaran Tematik
1.    Pengertian
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi disebutkan pada bagian struktur kurikulum SD/MI bahwa pembelajaran pada kelas I sampai kelas III dilaksanakan melalui pendekatan tematik, sedangkan pada kelas IV sampai kelas VI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran. Istilah pembelajaran tematik pada dasarnya adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehinggga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. (Depdiknas, 2006: 5).
Istilah model pembelajaran terpadu sebagai konsep sering dipersamakan dengan integrated teaching and learning, integrated curriculum approach, a coherent curriculum approach. Jadi berdasarkan istilah tersebut, maka pembelajaran terpadu pada dasarnya lahir dari pola pendekatan kurikulum yang terpadu (integrated curriculum approach). (Trianto, 2011: 147).
Beberapa model pembelajaran terpadu adalah the fragmented model, the connected model, the nested model, the webbed model dan berbagai model lainnya. Pembelajaran terpadu model webbed adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik. Pendekatan ini pengembangannya dimulai dengan menentukan tema tertentu. Tema bisa ditetapkan dengan negosiasi antar guru dan siswa, tetapi dapat pula dengan cara diskusi sesama guru. Setelah tema tersebut disepakati, dikembangkan sub-sub temanya dengan memperhatikan kaitannya dengan bidang-bidang studi. (Trianto, 2011: 115).
The webbed model of integration views the curriculum through a telescope, capturing an entire constellations of disciplines at once. Webbed curriculums ussually use a fertile theme to integrate subject matter, such as inventions. Model webbed memandang kurikulum melalui sebuah teleskop, memotret semua kumpulan bidang studi pada saat bersamaan. Model ini biasanya menggunakan tema yang besar untuk memadukan bidang studi.  (www.ascd.org/ASCD/pdf/journals/ed_lead/el_199110_fogarty.pdf
Sedangkan menurut Fogarty (1995: 185), webbed curricula commonly use the thematic approach to integrate subject matter. Broad themes such as change, cultures, discovery, enviroments, interaction, invention, power, systems, time and work provide a greater opportunity for teachers of various disciplines to find common topic, concepts and skills. Dalam model web biasanya menggunakan pendekatan tematik untuk memadukan materi pelajaran. Tema besar seperti perubahan, budaya, penemuan, lingkungan, interaksi, kekuatan, sistem, waktu dan pekerjaan menyediakan peluang besar bagi guru dari berbagai disiplin ilmu  untuk menemukan topik, konsep dan ketrampilan yang diharapkan.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tematik adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran tematik ini, siswa akan memahami konsep-konsep yang dipelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep-konsep lain yang sudah mereka pahami.
2.    Landasan Pembelajaran Tematik
Dalam teori belajar yang dikemukakan oleh Piaget diuraikan bahwa tahapan perkembangan intelektual anak meliputi sensori motor, pra operasional, operasional konkrit dan operasional formal. Siswa sekolah dasar berada pada tahapan operasional konkrit sehingga proses pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan karakteristik dan ciri perkembangan anak pada tahap ini. Para pakar psikologi menguraikan bahwa perkembangan siswa SD terutama pada kelas-kelas awal masih bersifat holistik dan terpadu. Oleh karena pembelajaran perlu dirancang secara terpadu dengan menggunakan tema sebagai pemersatu kegiatan pembelajaran.
Menurut Trianto (2011: 3101-106), pembelajaran tematik berangkat dari tiga (3) landasan yaitu landasan filosofis, landasan psikologis dan landasan yuridis.
a.         Landasan filosofis
Pembelajaran tematik berlandaskan pada filsafat pendidikan progresivisme, sedangkan progresivisme bersandarkan pada filsafat naturalisme, realisme dan pragmatisme. Selain itu, pembelajaran tematik juga bersandar pada filsafat pendidikan konstruktivisme dan humanisme.  
b.        Landasan psikologis
Secara teoritik maupun praktik, pembelajaran tematik berlandaskan pada psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama untuk menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamanya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Sedangkan psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa mempelajarinya.
c.         Landasan yuridis
Dalam penerapannya, pembelajaran tematik diperlukan payung hukum sebagai landasan yuridisnya. Payung hukum yuridis adalah sebagai legalitas penyelenggaraan pembelajaran tematik, dalam arti bahwa pembelajaran tematik dianggap sah bilamana telah mendapatkan legalitas formal. Landasan yuridis tersebut adalah UUD 1945, UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dan UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
3.    Karakteristik Pembelajaran Tematik
Menurut Depdiknas (2006: 6), pembelajaran tematik memiliki ciri-ciri atau karakteristik sebagai berikut :
a.         Berpusat pada siswa
       Proses pembelajaran yang dilakukan harus menempatkan siswa sebagai pusat aktivitas atau subyek belajar; sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator.
b.        Memberikan pengalaman langsung kepada siswa
       Dengan pengalaman langsung, siswa dihadapkan pada suatu yang nayat (konkret) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang abstrak.
c.         Pemisahan mata  pelajaran tidak begitu jelas
       Mengingat  tema dikaji dari berbagai mata pelajaran dan saling keterkaitan maka  batas mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan lingkungan siswa.
d.        Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
e.         Bersifat fleksibel
       Pembelajaran tematik bersifat fleksibel dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.
f.   Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan. Pembelajaran tematik mengadopsi prinsip belajar PAKEM yaitu pembelajaran aktif, reatif, efektif dan menyenangkan.
4.    Prinsip-Prinsip Pembelajaran Tematik
Secara umum, prinsip-prinsip pembelajaran tematik dapat diklasifikasikan menjadi beberapa prinsip yakni prinsip penggalian tema, prinsip pengelolaan pembelajaran, prinsip evaluasi dan prinsip reaksi yang secara rinci akan diuraikan seperti berikut :
a.         Tema hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan untuk memadukan banyak mata pelajaran.
b.        Tema harus bermakna dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis dan mewadahi sebagian besar minat anak.
c.         Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa autentik yang terjadi dalam rentang waktu belajar, ketersediaan sumber belajar dan kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat (asas relevansi).
d.        Guru hendaknya jangan menjadi single actor yang mendominasi pembicaraan dalam pembelajaran.
e.         Pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang menuntut adanya kerja sama kelompok.
f.         Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri (self evaluation) disamping bentuk evaluasi lainnya.
g.        Guru harus mampu bereaksi terhadap aksi siswa dalam setiap peristiwa dan  tidak mengarahkan aspek yang sempit, tetapi ke sebuah kesatuan yang utuh dan bermakna (Trianto, 2011: 154-156).
5.    Keunggulan Model Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik sebagai bagian dari pembelajaran terpadu memiliki banyak keuntungan yang dapat dicapai yakni :
a.         Memudahkan pemusatan perhatian pada satu tertentu.
b.        Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar isi mata pelajaran dalam tema yang sama.
c.         Pemahaman materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan.
d.        Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa.
e.         Lebih dapat dirasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas.
f.         Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam suatu mata pelajaran dan sekaligus dapat mempelajari mata pelajaran lain.
g.        Guru dapat menghemat waktu, sebab mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkan sekaligus, dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, dan waktu selebihnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan materi (Trianto, 2011: 153).  
Departemen Pendidikan dan Kebudayan (1996) menguraikan bahwa pelaksanaan pembelajaran tematik memiliki beberapa keuntungan yakni :
a.         Pengalaman dan kegiatan belajar anak relevan dengan tingkat perkembangannya.
b.        Kegiatan yang dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
c.         Kegiatan belajar bermakna bagi anak, sehingga hasilnya dapat bertahan lama.
d.        Ketrampilan berpikir anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu.
e.         Kegiatan belajar mengajar bersifat pragmatis sesuai lingkungan anak.
f.         Ketrampilan sosial anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu. Ketrampilan sosial ini antara lain : kerja sama, komunikasi, dan mau mendengarkan pendapat orang lain.
Selain memiliki kelebihan, pembelajaran tematik juga memiliki keterbatasan. Menurut Puskur Balitbang Diknas (2002: 9), beberapa keterbatasan pembelajaran tematis antara lain adapat ditinjau dari beberapa aspek yakni aspek guru, peserta didik, sarana dan sumber pembelajaran, kurikulum, penilaian dan aspek suasana pembelajaran. Memiliki keterampilan yang tinggi   serta tidak setiap guru mampu mengintegrasikan kurikulum dengan konsep-konsep yang ada dalam mata pelajaran secara tepat merupakan contoh keterbatasan dari aspek guru.



Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional. 1996. Pembelajaran Terpadu D-II PGSD dan S-2 Pendidikan Dasar. Jakarta. Depdiknas.

Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Strategi  Pembelajaran yang Mengaktifkan Siswa. Jakarta. Depdiknas.

Fogarty, Robin. 1991. How to Integrated the Curricula. Pallatine, Illionis. IRI/Skylight Publishing, Inc.

Trianto. 2009. Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik. Jakarta. Prestasi Pustaka Publisher

Trianto. 2011. Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik bagi anak usia dini TK/RA & anak Usia Kelas Awal SD/MI. Jakarta. Kencana.

Fogarty, Robin. (Oktober 1991). Ten Ways to Integrate Curriculum.  Diambil pada tanggal 16 Maret 2012, dari http://www.ascd.org/ASCD/pdf/journals/ed_lead/el_199110_fogarty.pdf

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi

Puskur Balitbang Depdiknas. 2006. Model Pembelajaran Tematik. Jakarta. Depdiknas.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar